Artikel

Melestarikan Budaya Bangsa dan Meningkatkan Peran Pemuda dalam Pembangunan Ekonomi Nasional

Jumat, 25 November 2011

Ekonomi Kreatif
Sejarah panjang perekonomian selalu diwarnai oleh konsep baru seiring dengan peralihan peradaban yang dipicu oleh kemajuan tekonologi, perubahan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Alvin Toffler (1980) dalam teorinya melakukan pembagian gelombang peradaban ekonomi kedalam tiga gelombang. Gelombang pertama adalah gelombang ekonomi pertanian, kedua gelombang ekonomi industri, dan yang ketiga adalah gelombang ekonomi informasi. Peningkatan jumlah penduduk, keterbatasan sumber daya alam dan kemajuan teknologi mendorong munculnya gelombang ekonomi baru yang disebut dengan gelombang ekonomi kreatif.
UNCTAD mendefinisikan ekonomi kreatif sebagai sebuah konsep ekonomi yang mendasarkan pada kreatifitas sebagai aset utama dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Definisi ekonomi kreatif tersebut dapat disimpulkan bahwa pembangunan berdasarkan konsep ekonomi kreatif adalah pembangunan yang melandaskan pada pengembangan kreatifitas masyarakat. Kreatifitas dianggap sebagai aset penting atau modal dasar dalam pembangunan ekonomi yang perlu dikembangkan dan ditingkatkan. Esensi pembangunan berlandaskan ekonomi kreatif adalah pembangunan ekonomi yang mengedepankan pengembangan kempuan setiap individu untuk dapat lebih berkarya sehingga kesejahteraan masyarakat tercipta dengan sendirinya.
Ekonomi Kreatif, Budaya dan Nasionalisme
Sebagai negara berkembang, perkembangan ekonomi, teknologi, sosial dan budaya Indonesia tentu saja tertinggal jika dibandingkan dengan negara maju. Untuk mengejar ketertinggalan diberbagai bidang dengan melihat esensi dari ekonomi kreatif sangat tepat jika pembangunan di Indonesia melandaskan pada konsep ekonomi kreatif.
Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam dan budaya, namun selama ini pengelolaan atas sumber daya tersebut belum mampu mensejahterakan seluruh masyarakat. Selama ini pengelolaan sumber daya untuk mensejahterakan masyarakat belum maksimal. Pengelolaan dalam pembangunan ekonomi tidak hanya mengacu pada pemerintah, namun juga membutuhkan peran serta para cendikiawan, pelaku bisnis dan masyarakat umum. Selama ini, kelemahan mendasar dalam pembangunan ekonomi adalah integritas dan kreatifitas.
Konsep pembangunan ekonomi keartif merupakan pembangunan yang berlandaskan pada kreatifitas. Untuk dapat mengembangkan kreatifitas harus ditumbuhkan integritas pada setiap individu didalam masyarakat. Kreatifitas merupakan imajinasi, inspirasi atau kemampuan untuk membuat sesuatu yang berasal dari ide kreatif. Untuk mewujudkan ide menjadi sebuah karya dibutuhkan integritas yang tinggi atas ide tersebut. Didalam ekonomi kreatif, kreatifitas dipandang sebagai aset utama. Oleh karena itu, kreatifitas yang berasal dari ide harus ditingkatkan dan dikembangkan.
Budaya sebagai Akselerator Pembanguan Ekonomi
Dalam pembangunan yang berlandaskan ekonomi kreatif pengembangan ide kreatif dapat dilakukan dengan pembentukan budaya kreatif. Pembentukan budaya kreatif adalah pembentukan citra budaya baru tanpa harus menanggalkan identitas budaya lama. Dibutuhkan kolaborasi setiap elemen masyarakat untuk dapat membentuk citra budaya baru. Pemerintah, akademisi atau cendikiawan dan pelaku bisnis aktor utama dalam pembentukan budaya kreatif. Pemerintah, akademisi atau cendikiawan dan pelaku bisnis harus dapat berelaborasi sehingga dapat memperkaya pengetahuan antar elemen tersebut yang pada akhirnya menghasilkan sinergi berupa ide-ide atau cara pandang baru. Sinergi ketiga elemen masyarakat tersebut akan membentuk budaya kreatif tanpa menghilangkan identitas budaya lama.
Pengembangan citra budaya baru tidak serta merta menghilangkan belief masyarakat yang sudah terbentuk sebelumnya sehingga konflik dapat dihindari. Pengembangan citra budaya baru harus didukung dengan integritas yang tinggi antar eleman utama pembentukan budaya kreatif di masyarakat. Integritas atau kejujuran akan menumbuhkan rasa toleransi dengan tetap berlandaskan khasanah keagamaan dan budaya lokal dan meningkatkan penghargaan atas kreasi seseorang. Toleransi dan apresiasi atas hak cipta adalah kunci pengembangan budaya kreatif. Toleransi atas sebuah perbedaan akan menumbuhkan ide-ide kreatif di masyarakat. Penghargaan atas hak cipta akan mendorong setiap orang untuk berusaha mewujudkan ide kreatif menjadi sebuah barang dan jasa yang mempunyai nilai ekonomi tinggi.
Budaya sebagai Resources
Budaya mempunyai peran ganda dalam pembangunan yang berlandaskan ekonomi kreatif. Selain sebagai akselerator atau faktor utama penggerak dalam pengembangan ekonomi kreatif, budaya adalah resource atau sumber daya yang dapat dikembangkan menjadi sebuah produk bernilai ekonomi tinggi. Pembentukan budaya kreatif akan mendorong pemanfaatan budaya sebagai sumber daya ekonomi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan pembangunan ekonomi. Pemanfaatan budaya lokal seperti tarian khas daerah, rumah adat dan kerajinan lokal membutuhkan ide-ide kreatif dan elaborasi antara pelaku bisnis pemerintah dan cendikiawan. Indonesia sebagai negara yang kaya akan budaya seharusnya dapat memanfaatkan sumber daya budaya menjadi salah satu sumber daya ekonomi yang mempunyai nilai jual tinggi. Keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia dapat dikembangkan menjadi produk pariwisata atau produk seni sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Peran Pemuda dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif
Pembanguan ekonomi kreatif membutuhkan peran besar pemuda. Sebagai jiwa yang mempunyai daya ekplorasi tinggi pemuda adalah sumber daya insani yang dapat dibentuk menjadi insan-insan kreatif dan mempunyai integritas tinggi dalam mewujudkan sebuah ide. Dengan mendorong tingkat kreatifitas pemuda berarti mengarahkan pemuda untuk lebih produktif.
Potensi sumber daya insani Indonesia tergambar pada angak jumlah angkatan kerja yang pada bulan Februari 2009 mencapai 113,17 juta jiwa. Pembentukan insan-insan muda menjadi insan kreatif akan meningkatkan produktifitas pemuda sehingga dapat mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia yang sekarang ini mencapai 9.342 juta jiwa. Dengan pembangunan yang berlandaskan kreatifitas masyarakat dan pemuda sebagai aktor utama, sumber daya yang ada dapat dimanfaatkan secara efisien. Pemanfaatan kreatifitas pemuda akan mendorong pembentukan lapangan kerja baru yang pada akhirnya akan mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia.
Pemuda harus disiapkan sejak dini untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Pembentukan kreatifitas pemuda dapat dimulai dari lingkungan pendidikan seperti kampus. Melalui arahan akademisi sejak dini pemuda diperkenalkan pada dunia usaha atau profesional dan diajak untuk belajar memahami lingkungan dan budaya bangsa. Dengan demikian pemuda dapat terpacu untuk berkarya dan dapat meningkatkan rasa nasionalisme pemuda. Dimana pada akhirnya pemuda dapat memberikan sumbangan nyata bagi kemajuan bangsa dan negara.

Foto Lain


A A A