Artikel

BUDAYA DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI

Senin, 21 November 2011

Sekilas Budaya dalam Lingkup Pembangunan Ekonomi

Pembangunan ekonomi yang berkesinambungan meliputi pembangunan yang bersifat fisik (tangible) dan non fisik (intangible). Pembangunan fisik berupa pembangunan yang berwujud benda atau materi seperti pembangunan sarana pelayanan publik (jalan, gedung, tempat hiburan, IT). Pembangunan non fisik berupa pembangunan yang tidak berwujud seperti caracter building, social capital dan culture capital. Pembangunan non fisik sering kali terabaikan karena sifatnya yang tidak mudah diukur. Tidak dapat dipungkiri, baik para ekonom maupun masyarakat awam sering kali menilai keberhasilan pembangunan ekonomi dari sudut pandang sektoral (variabel endogen) seperti tingkat output atau tingkat produksi sebagai dampak dari perubahan variabel eksogen seperti pengeluaran pemerinta, investasi dan konsumsi. Pembangunan ekonomi tidak dapat terlepas dari faktor budaya. Budaya pada masyarakat pra industri berpegang pada nilai-nilai religius dengan perubahan yang lambat. Budaya pada masyarakat moderen lebih sekuler, rasional dan terbuka terhadap perubahan. Budaya yang berpegang pada nilai-nilai religius sering dipandang sebagai penghambat pembangunan ekonomi yang lebih mengedepankan nilai-nilai materialis. Pada kenyataanya tidak ada nilai-nilai religius yang bertentangan dengan pembangunan ekonomi. Apa yang sebenarnya terjadi adalah bagaiman sistem norma yang menjadi pegangan masyarakat tidak berkembang. Sistem norma sosial menentukan anggota masyarakat tertentu menempati posisi tertentu. Adanya keuntungan sepihak mendorong terjadinya mekanisme sosial politik masyarakat untuk mempertahankan sistem norma tertentu walaupun sudah tidak sesuai dengan perkembangan jaman. Perubahan sistem norma masyarakat yang mengubah strata sosial tidak harus mengubah karakter yang menjadi ciri khas masyarakat yang tercermin dari tata cara atau adat istiadat. Walaupun budaya tidak termasuk kedalam variabel yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, pada kenyataannya budaya menjadi faktor intangible yang berpengaruh pada variabel edogen dan eksogen. Bagaimana menempatkan budaya dalam pembangunan ekonomi adalah langkah strategis untuk memecahkan polemik keterkaitan ekonomi-budaya.

Sebagai negara yang terdiri dari berbagai suku bangsa, Indonesia memiliki keragaman budaya yang dapat dijadikan sebagai modal pembangunan ekonomi. Keragaman budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia seharusnya bukan menjadi penghalang bagi pembanguan ekonomi. Keragaman budaya dapat dikonversi menjadi sumber daya yang mendukung pembangunan ekonomi. Budaya sebagai sumber daya ekonomi adalah budaya sebagai intangible asset yang menjadi modal dasar (culture capital) pembangunan ekonomi. Modal budaya memiliki dimenasi jamak. Budaya dapat dipandang sebagai aset atau sebagai modal yang dapat dikembangkan menjadi produk yang mempunyai nilai ekonomi. 

• Budaya sebagai aset berarti budaya sebagai wadah atau sarana dalam pembangunan ekonomi. Belief yang menjadi nilai dan norma masyarakat dijadikan sebagai sarana pembangunan ekonomi. Nilai dan norma sosial menjadi alat penyampaian atau sosialisasi yang selanjutnya menjadi dasar mekansime dalam program pembangunan ekonomi. 

• Budaya sebagai modal (capital culture) berkaitan dengan keunikan tata cara dari pelaksanaan belief suatu masyarakat dan propreti yang dihasilkannya. Keunikan tata cara pelaksanaan belief mengandung nilai ekonomi yang dapat dijadikan produk berupa wisata budaya. 

 

Transmisi-Transformasi Modernisasi

Salah satu langkah dalam pembangunan ekonomi adalah dengan pengembangan teknologi yang digunakan untuk meningkatkan produktivitas. Berbagai penemuan teknologi baru seperti penemuan mesin uap, bola lamu, komputer dan internet merubah tatanan sosial masyarakat. Penemuan mesin uap dan bola lampu pada masa revolusi industri memunculkan jam kerja lembur. Penemuan komputer merubah cara kerja manual dengan komputasi. Penemuan internet memunculkan model bisnis baru, bentuk komunikasi, interaksi sosial media yang sebelumnya belum pernah ada. Masyarakat membutuhkan waktu untuk belajar sebelum dapat memanfaatkan teknologi menjadi alat yang bermanfaat secara ekonomi. Pada masyarakat modern gap atau tenggat waktu pembelajaran penggunan teknologi membutuhkan waktu yang pendek. Masyarakat modern lebih terbuka terhadap hal baru, lebih rasional dan cenderung lebih senang bereksperimen untuk mendapatkan kesimpulan tertentu. Masyarakat modern adalah masyarakat yang melalui proses evolusi dalam bidang kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti sebuah cawan yang terus diisi air, budaya sebagai cawan harus berkembang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi faktor pedorong kemajuan ekonomi. Keberhasilan pembangunan ekonomi ditentukan oleh transformasi budaya tradisional menjadi budaya modern dan keberhasilan transmisi nilai-nilai budaya menjadi sosio-ekonomi kultural. Transformasi budaya adalah proses dinamis dimana kebudayaan yang menjadi cara hidup berubah dan beradaptasi terhadap faktor eksternal dan kekuatan internal. Transormasi budaya bukan westernisation atau adopsi kebudayaan barat seutuhnya melainkan penyesuaian nilai-nilai budaya lokal terhadap faktor eksternal dan kekuatan internal. Sedangkan, transmisi budaya adalah pengaruh nilai-nilai budaya terhadap kehidupan sosial. Transmisi dan transformasi budaya yang sejalan dengan tahapan pertumbuhan ekonomi akan menciptakan keseimbangan sehingga clash atau perselisihan masyarakat dapat diminimalisir atau bahkan dihindari.  W.W. Rostow membagi tahapan pertumbuah ekonomi menjadi lima tahap. 

• Stage 1: Traditional Society

Ekonomi didominasi oleh kegiatan bertahan hidup. Pertukaran barang. Pertanian adalah industri yang sangat penting. Keterbatasan teknologi. Alokasi sumberdaya menggunakan metode tradisional.

• Stage 2: Preconditions for Takeoff

Peningkatan spesialisasi produksi untuk menghasilkan keuntungan dialam perdagangan. Kemunculan kegiatan wira usaha untuk meningkatkan pendapatan, tabungan dan investasi. Perdagangan dengan pihak luar terkonsetrasi pada barang pokok. Pemerintah pusat mendorong keterlibatan pihak swasta.

• Stage 3: Take Off

Peningkatan industri yang beralih dari pertanian ke manufaktur. Pertumbuhan di beberapa kota dengan beberapa industri. Investasi meningkat lebih dari 10% dari GDP. Masyarakat penabung.

• Stage 4: Drive to Maturity

Diversifikasi ekonomi. Inovasi teknologi menawarkan berbagai peluang investasi. Perekonomian menghasilkan bermacam-macam barang dan jasa, ketergantungan ekspor berkurang. Teknologi digunakan lebih luas.

• Stage 5: High Mass Consumption

Ekonomi mengarah pada konsumsi masal aktivitas ekonomi sangat tinggi. Penggunaan teknologi masal tetapi ekspansi lambat. Sektor jasa menjadi dominan. Keinginan untuk sejahtera meningkat. Pendapatan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Rostow menggolongkan tahapan pertumbuhan ekonomi berdasarkan sejarah perjalanan ekonomi Eropa. Terori tahapan pertumbuhan Rostow banyak menuai kritik karena mengeneralisasi variabel-variabel pertumbuhan ekonomi. 

 

Local Wisdom, Modernisasi dan Desentralisasi

Dalam lingkup nasional tahapan pertumbuhan ekonomi yang diungkapkan oleh Rostow tidak relevan dengan apa yang terjadi di Indonesia. Faktor demografi menyebabkan disparitas pembangunan ekonomi. Inovasi yang berjalan sangat cepat juga perpengaruh terhadap kekacauan teknologi sehingga pemanfaatan jenis-jenis teknologi pada masyarakat majemuk tidak mudah dipetakan. Namun demikian, apa yang diungkapkan Rostow masih relefan pada lingkup yang lebih kecil yaitu daerah. Tahapan pertumbuhan ekonomi Rostow dapat menjadi acuan pengembangan budaya daerah. Pembangunan ekonomi daerah yang dilakukan harus sejalan dengan pengembangan kapasitas sosial masyarakat daerah tersebut melalui pengembangan budaya yang sejalan dengan tahapan pertumbuhan ekonomi. Setiap daerah di Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Disparitas dalam pembangunan ekonomi terjadi karena adanya kesenjangan sumber daya manusia dan jangkauan infrastruktur. Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor produksi. Pemanfaatan atau pengolahan sumber daya alam secara maksimal tergatung pada sumber daya manusia yang tersedia di setiap daerah. Sedangkan infrastruktur merupakan sarana penunjang yang menentukan efisiensi dan efektivitas kegiatan ekonomi seperti misalnya kemudahan akses pasar. Ketersediaan sumber daya manusia (SDM) di daerah berhubungan langsung dengan aspek budaya setempat. Hambatan pembangunan sumber daya manusia di daerah biasanya dikarenakan adanya nilai-nilai tradisional yang tidak sesuai dengan perkembangan jaman seperti pemahaman terhadap pendidikan, peran wanita dan pekerjaan, yang diterjemahkan sebagai berikut:

• Pendidikan dalam pemahaman tradisional.

Mengedepankan pendidikan adat dan agama, namun mengesampingkan pendidikan formal yang sejatinya kesemuanya sama pentingnya. Memandang pendidikan formal sebagai sarana untuk mendapatkan atau mencari pekerjaan padahal fungsi utama pendidikan formal adalah mengubah menambah wawasan, pengetahuan dan mengubah pola pikir sebagai modal untuk berkarya.

• Peran wanita dalam pemahaman tradisional.

Peran wanita terbatas terbatas, tidak mempunyai pilihan lain selain sebagai ibu rumah tangga yang bertugas mengasuh anak, karena perannya tidak perlu mendapatkan pendidikan tinggi. Pada masyarakat modern pendidikan tinggi untuk wanita sama pentingnya denga pendidikan tinggi untuk peria. Walaupun nantinya menjadi ibu rumah tangga, pendidikan tinggi untuk wanita dapat meningkatkan pola pikir anak dan keluarga.

• Padangan tradisional mengenai kerja.

Kerja hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga padahal kerja adalah ibadah, sarana beramal berkarya untuk berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat. Pemahaman bekerja dengan alat tradisionallebih berkualitas dibandingkan dengan mesin padahal efisiensi dan efektifitas dalam bekerja berpengaruh pada tinggkat produksi.

Untuk mengubah pandangan masyarakat setempat diperlukan restrukturisasi nila-nilai tradisional yang menghambat laju pembanguan di daerah. Restrukturisasi nilai dan tata cara budaya tradisional dilakukan dengan tetap mengedepankan lokal wisdom. Local wisdom (kearifan lokal) adalah gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya, seperti pada masyarakat papua “te aro neweak lako” (aku adalah alam), pada masyarakat Serawai, Bengkulu “celako kumali”, Dayak Kenyah, Kalimantan Timur “tana‘ ulen”. Restrukurisasi pemahaman tentang pendidikan, peranan wanita, dan kerja mengubah padangan mengubah pandangan tradisional yang menghambat pembangunan sumberdaya manusia di daerah. Dengan demikian, ketersediaan sumber daya manusia di daerah akan meningkatkan produktivitas yang pada akhirnya meningkatkan taraf hidup di daerah tersebut.

Sistem pemerintahan desentralisasi memberikan kesempatan pada tiap-tiap daerah di Indonesia untuk mengelola sendiri sumber daya alam yang dimilikinya. Desentralisasi ekonomi memberikan kesempatan kepada masyarakat daerah untuk membangun ekonominya sendiri baik secara mandiri maupun secara swadaya (melibatkan peran masyarakat). Pembangunan ekonomi memerlukan peran aktif masyarakat. Pembangunan ekonomi secara swadaya dapat dilakukan ketika nilai-nilai koletivitas pada masyarakat daerah tidak terkikis oleh nilai-nilai individualisme. Restrukturisasi nilai dengan mengedepankan kearifan lokal termasuk juga menjaga nilai-nilai kolektivitas masyarakat daerah dengan tetap mengembangkan pemahaman terhadap pendidikan, peranan wanita dan kerja. Pembanguan ekonomi secara swadaya di daerah dapat membantu pembangunan infrastruktur daerah, seperti  pembangunan jembatan, jalan dan perbaikan fasilitas umum secara swadaya.

 

Kesimpulan

Budaya memiliki peranan penting dalam pembangunan ekonomi. Budaya adalah modal kultural (capital culture), dapat dikembangkan menjadi roduk ekonomu berupa wisata budaya. Budaya sebagai aset berarti budaya sebagai wadah atau sarana dalam pembangunan ekonomi. Budaya dapat diibaratkan sebagai pabrik diaman belief sebagi tanahnya, nilai-nilai sebagai bangunannya, norma dan prilaku sebagai mesinnya. Untuk menambah kapasitas produksi dalam sebuah proses pembangunan ekonomi belief harusnya dapat diperluas atau diperkaya dengan keyakinan universal, diartikulasikan menjadi nilai-nilai untuk memperkokoh atau memperluas bangunan dan diterapkan melalui norma dan prilaku untuk menambah kapasitas produksi. Penggunaan teknologi dalam pembangunan ekonomi berpengaruh terhadap dinamika sosial masyarakat. Budaya yang bersifat dinamis harus terus dikembangkan untuk meningkatkan kapasitas sosial sesuai dengan pertumbuhan ekonomi dan dengan memperhatikan kearifan lokal (local wisdom). Peningkatakn kapasitas sosial dapat meningkatkan pemahaman masyarakat dalam pemanfaatan teknologi secara tepat, dan mengembakan kreatifitas yang mendorong masyarakat inovatif sehingga pada akhirnya dapat mentadi faktor pendongkrak (laverage) pertumbuhan ekonomi.

 

Foto Lain


A A A